Kisah Omjay Dari Naik Mobil Pribadi Kini Naik Transportasi Umum yang Bikin Happy
Ketika Allah Mengambil Setir Mobilku, Ternyata Dia Sedang Mengantarkanku pada Kebahagiaan yang Baru
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Hidup sering kali mengajarkan pelajaran berharga melalui cara yang tidak kita sukai.
Bahkan terkadang melalui sesuatu yang awalnya membuat kita sedih, kecewa, dan merasa kehilangan.
Saya mengalaminya sendiri.
Terus terang, awalnya saya sedih.
Sangat sedih.
Selama bertahun-tahun saya terbiasa mengendarai mobil pribadi ke sekolah, ke kampus, ke seminar, ke berbagai kegiatan organisasi, dan ke mana pun saya ingin pergi.
Mobil itu bukan sekadar kendaraan.
Mobil itu menjadi teman perjalanan yang setia menemani berbagai kisah kehidupan.
Bersamanya saya mengantar anak sekolah, menghadiri pelatihan guru, mengisi seminar dari kota ke kota, bahkan menempuh perjalanan jauh hingga luar provinsi.
Karena itulah ketika dokter melarang saya menyetir mobil akibat kondisi kesehatan yang belum pulih sepenuhnya, hati saya terasa berat.
Saya teringat peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Mulai dari kecelakaan yang saya alami hingga gangguan kesehatan yang membuat tubuh saya tidak lagi sekuat dulu.
Dokter dengan tegas berkata,
"Pak Wijaya, sementara jangan dulu membawa mobil sendiri."
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi saya, rasanya seperti kehilangan sebagian kebebasan.
Saya sempat bertanya dalam hati.
"Kenapa harus sekarang?"
"Kenapa ketika saya masih banyak aktivitas?"
"Kenapa saya harus bergantung pada kendaraan umum?"
Sebagai manusia biasa, saya mengeluh dalam hati.
Saya merasa hidup menjadi lebih sulit.
Namun ternyata saya salah.
Sangat salah.
Allah ternyata sedang menyiapkan kejutan yang indah.
---
Hari pertama naik transportasi umum terasa canggung.
Saya harus berjalan menuju stasiun.
Saya harus menunggu kereta datang.
Saya harus berbagi ruang dengan banyak orang.
Saya harus menyesuaikan diri dengan ritme yang berbeda.
Awalnya saya merasa tidak nyaman.
Namun perlahan semuanya berubah.
Saya mulai menikmati perjalanan.
Saya mulai melihat hal-hal yang selama ini luput dari perhatian.
Saat naik LRT dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas, saya melihat wajah-wajah penuh perjuangan.
Ada siswa yang berangkat sekolah dengan semangat.
Ada pegawai yang berangkat kerja sejak pagi.
Ada pedagang kecil yang membawa barang dagangannya.
Ada ibu yang menggendong anaknya.
Ada kakek yang tetap tersenyum meskipun tubuhnya tidak lagi muda.
Saya menyadari bahwa setiap orang sedang berjuang dengan cara mereka masing-masing.
Dan saya adalah bagian dari mereka.
---
Yang lebih mengejutkan lagi adalah soal biaya.
Selama ini saya tidak terlalu menghitung.
Ketika membawa mobil pribadi, saya merasa itu biasa saja.
Padahal jika dihitung dengan jujur, biaya yang dikeluarkan cukup besar.
Tol pulang-pergi hampir lima puluh ribu rupiah.
Belum bensin.
Belum biaya parkir.
Belum perawatan kendaraan.
Belum risiko macet dan kelelahan.
Sementara ketika naik transportasi umum, saya hanya mengeluarkan sekitar dua puluh lima ribu rupiah.
Setengahnya.
Lebih hemat.
Lebih praktis.
Lebih tenang.
Saya tinggal duduk manis.
Tidak perlu memegang setir.
Tidak perlu memikirkan kemacetan.
Tidak perlu khawatir mencari parkir.
Bahkan sopirnya berganti-ganti setiap hari.
Saya tinggal menikmati perjalanan.
Ternyata ada kenikmatan yang selama ini tidak pernah saya rasakan.
---
Di dalam kereta saya bisa membaca buku.
Saya bisa menulis artikel.
Saya bisa membalas pesan.
Saya bisa mengamati kehidupan.
Saya bisa merenung.
Saya bisa bersyukur.
Dulu saat menyetir mobil, fokus saya hanya pada jalan.
Kini perjalanan menjadi ruang belajar yang sangat berharga.
Sering kali saya membuka laptop atau telepon genggam dan mulai menulis.
Ide-ide bermunculan begitu saja.
Tulisan demi tulisan lahir selama perjalanan.
Saya tersenyum sendiri.
Siapa sangka larangan dokter justru membuat saya lebih produktif?
---
Suatu pagi saya duduk dekat jendela kereta.
Matahari mulai muncul dari balik gedung-gedung tinggi Jakarta.
Cahayanya masuk melalui kaca.
Hangat.
Menenangkan.
Saat itu hati saya berbisik,
"Jay, ternyata Allah tidak mengambil sesuatu darimu tanpa menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik."
Air mata saya hampir menetes.
Saya teringat betapa sering manusia hanya melihat apa yang hilang.
Padahal Allah sedang menyiapkan apa yang akan datang.
Kita sering menangisi pintu yang tertutup.
Padahal di depan sana ada banyak pintu lain yang sedang dibukakan.
Kita sering fokus pada kehilangan.
Padahal sesungguhnya kita sedang diarahkan menuju kebaikan.
---
Saya jadi memahami satu hal penting.
Tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik bagi kita.
Dan tidak semua yang kita kehilangan adalah sebuah kerugian.
Kadang Allah mengambil setir kehidupan kita karena kita sudah terlalu lelah mengemudi sendiri.
Kadang Allah meminta kita berhenti sejenak agar bisa melihat pemandangan yang selama ini terlewat.
Kadang Allah melarang sesuatu karena Dia ingin menjaga kita.
Bukan menghukum kita.
Bukan menyusahkan kita.
Tetapi menyayangi kita.
Hari ini saya justru bersyukur kepada dokter yang melarang saya menyetir.
Saya bersyukur kepada keluarga yang terus mengingatkan saya untuk menjaga kesehatan.
Saya bersyukur kepada tubuh yang memberi sinyal agar saya lebih bijaksana.
Dan yang paling utama, saya bersyukur kepada Allah SWT.
Karena melalui larangan sederhana itu, saya menemukan nikmat yang baru.
Nikmat yang sebelumnya tidak pernah saya sadari.
---
Jika hari ini Anda sedang kehilangan sesuatu, jangan buru-buru bersedih.
Jika hari ini rencana Anda berubah, jangan buru-buru kecewa.
Jika hari ini hidup tidak berjalan sesuai keinginan, jangan buru-buru putus asa.
Mungkin Allah sedang memindahkan Anda ke jalur yang lebih baik.
Mungkin Allah sedang mengurangi sesuatu agar Anda bisa menikmati hal lain yang lebih berharga.
Mungkin Allah sedang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang kita miliki.
Tetapi dari bagaimana kita mensyukuri apa yang diberikan-Nya.
Saya belajar bahwa kebahagiaan tidak berada di balik kemudi mobil pribadi.
Kebahagiaan ternyata berada di dalam hati yang mampu menerima takdir dengan ikhlas.
Dan ketika hati sudah ikhlas, perjalanan apa pun akan terasa indah.
Bahkan ketika kita tidak lagi memegang setir kehidupan kita sendiri.
Karena kita percaya, Allah adalah Pengemudi terbaik yang tidak pernah salah membawa hamba-Nya menuju tujuan yang paling baik.
Terima kasih Ya Allah. Ketika Engkau mengambil setir mobilku, ternyata Engkau sedang mengantarkanku menuju kebahagiaan yang baru.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com
@semua
makasih
ReplyDelete