Kopdar Prof Unifah Rosyidi Ketum PB PGRI dan Prof Abdul Mu'ti Mendikdasmen
Bersama Prof. Unifah Rosyidi dan Prof. Abdul Mu’ti: Merajut Harapan Baru Pendidikan Indonesia
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Ada kalanya sebuah foto menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar gambar. Foto yang mempertemukan Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., adalah salah satu momen yang sarat makna bagi dunia pendidikan Indonesia.
Ketika saya melihat foto tersebut, yang terlintas dalam pikiran bukan hanya dua tokoh pendidikan nasional yang sedang berdiri berdampingan. Saya melihat harapan. Saya melihat perjuangan. Saya melihat masa depan pendidikan Indonesia yang sedang dibangun melalui dialog, kolaborasi, dan komitmen bersama.
Prof. Unifah Rosyidi bukanlah sosok asing bagi para guru Indonesia. Beliau adalah Ketua Umum PB PGRI yang kembali mendapat kepercayaan memimpin organisasi guru terbesar di Indonesia periode 2024–2029. Selama kepemimpinannya, beliau dikenal konsisten memperjuangkan kesejahteraan, profesionalisme, perlindungan hukum, dan martabat guru Indonesia.
Sementara itu, Prof. Abdul Mu’ti merupakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia yang mulai menjabat sejak Oktober 2024. Beliau dikenal sebagai akademisi, cendekiawan, dan tokoh pendidikan yang memiliki perhatian besar terhadap penguatan karakter, kualitas pembelajaran, serta transformasi pendidikan nasional.
Pertemuan Dua Tokoh Pendidikan
Bagi saya, pertemuan antara Ketua Umum PB PGRI dan Mendikdasmen memiliki arti yang sangat penting.
Pendidikan tidak akan maju jika pemerintah berjalan sendiri.
Sebaliknya, organisasi profesi guru juga tidak akan mampu mewujudkan perubahan besar tanpa dukungan kebijakan pemerintah.
Karena itu, komunikasi yang harmonis antara PB PGRI dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi salah satu kunci keberhasilan pembangunan pendidikan nasional.
Guru adalah ujung tombak pendidikan.
Setiap kebijakan yang dibuat pemerintah pada akhirnya akan dilaksanakan oleh guru di ruang-ruang kelas.
Oleh sebab itu, suara guru harus didengar.
Aspirasi guru harus diperhatikan.
Dan kebutuhan guru harus menjadi bagian dari kebijakan pendidikan nasional.
Di sinilah peran strategis PGRI sebagai rumah besar para guru Indonesia.
Perjuangan yang Tidak Pernah Berhenti
Saya mengenal Prof. Unifah Rosyidi sebagai sosok yang memiliki dedikasi luar biasa terhadap dunia pendidikan.
Beliau tidak pernah lelah menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi guru.
Mulai dari kesejahteraan guru, perlindungan hukum, peningkatan kompetensi, hingga pentingnya transformasi pendidikan di era digital terus beliau perjuangkan. Bahkan PGRI terus mendorong hadirnya perlindungan yang lebih kuat bagi guru dalam menjalankan tugas profesionalnya.
Di berbagai kesempatan, Prof. Unifah juga mengingatkan bahwa guru masa depan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan zaman tanpa kehilangan karakter dan nilai kemanusiaan.
Pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Kehadiran Artificial Intelligence (AI), teknologi digital, dan berbagai inovasi pembelajaran menuntut guru untuk terus belajar sepanjang hayat.
Pendidikan yang Memerdekakan
Prof. Abdul Mu’ti membawa semangat yang sejalan.
Beliau dikenal sebagai tokoh pendidikan yang menempatkan pendidikan sebagai sarana memerdekakan manusia.
Bukan sekadar mengejar nilai akademik.
Bukan sekadar mengejar kelulusan.
Tetapi membangun manusia Indonesia yang cerdas, berkarakter, beriman, dan siap menghadapi tantangan global.
Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade, saya percaya bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang mampu mengembangkan seluruh potensi peserta didik.
Anak-anak kita tidak cukup hanya pintar.
Mereka juga harus jujur.
Mereka harus kreatif.
Mereka harus memiliki empati.
Mereka harus mampu bekerja sama dan memecahkan masalah.
Semua itu hanya bisa diwujudkan melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.
Harapan Guru Indonesia
Sebagai Guru Blogger Indonesia, saya sering bertemu guru dari berbagai daerah.
Dari Sabang sampai Merauke.
Dari kota besar hingga daerah terpencil.
Mereka memiliki harapan yang sama.
Mereka ingin mengajar dengan tenang.
Mereka ingin mendapatkan perlindungan hukum.
Mereka ingin memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi.
Mereka ingin kesejahteraan yang layak.
Dan yang paling penting, mereka ingin melihat murid-muridnya berhasil.
Karena itulah setiap pertemuan antara PB PGRI dan pemerintah selalu membawa harapan baru bagi jutaan guru Indonesia.
Harapan bahwa pendidikan akan semakin baik.
Harapan bahwa profesi guru semakin dihargai.
Harapan bahwa masa depan bangsa akan semakin cerah.
Sebuah Foto yang Mengandung Makna
Ketika saya memandang foto Prof. Unifah Rosyidi dan Prof. Abdul Mu’ti tersebut, saya melihat lebih dari sekadar dokumentasi pertemuan.
Saya melihat simbol persatuan.
Saya melihat simbol kolaborasi.
Saya melihat simbol optimisme.
Di tengah berbagai tantangan pendidikan saat ini, Indonesia membutuhkan lebih banyak kerja sama dan lebih sedikit perdebatan.
Lebih banyak solusi dan lebih sedikit konflik.
Lebih banyak inovasi dan lebih sedikit saling menyalahkan.
Karena sesungguhnya tujuan kita sama.
Yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sebagaimana semboyan pendidikan yang terpampang dalam lambang Tut Wuri Handayani, pendidikan adalah usaha bersama untuk menuntun tumbuhnya potensi manusia agar menjadi pribadi yang merdeka, berkarakter, dan bermanfaat bagi sesama.
Semoga sinergi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan PB PGRI semakin kuat.
Semoga guru Indonesia semakin sejahtera dan terlindungi.
Semoga peserta didik Indonesia tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan siap menghadapi masa depan.
Dan semoga foto sederhana ini kelak dikenang sebagai bagian dari perjalanan panjang membangun pendidikan Indonesia yang lebih bermutu untuk semua.
Salam Literasi. Salam Pendidikan. Salam Guru Belajar, Berbagi, dan Berkarya. 🇮🇩
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Comments
Post a Comment