Omjay Penulis Hebat Kata BangRos

Penulis Hebat Minta Kisahnya Ditulis dengan Gaya Koptagul

Pagi tadi saya dikirim sebuah artikel oleh Omjay. Bagi yang belum kenal, Omjay itu Dr. Wijaya Kusumah, guru, blogger, penulis, dan salah satu manusia yang tampaknya memiliki hubungan khusus dengan tombol keyboard. Saya baca tulisannya. Bagus. Inspiratif. Bikin orang yang hobi menunda pekerjaan langsung merasa bersalah.

Saya pun menjawab singkat, "Mantap." Tak lama kemudian muncul balasan. "Kapan Omjay ditulis sama Bang Ros hehehe." Saya langsung terdiam.

Ini seperti pemain Piala Dunia meminta komentarnya kepada pemain tarkam. Agak gugup juga. Apalagi sebelumnya kami pernah ngobrol soal menulis. Saya cerita kalau bulan Mei kemarin berhasil menulis 110 artikel.

Omjay menjawab, "Wow mantap, bagaimana kiatnya abang bisa menulis sebanyak itu?"

Saya langsung merendah. "Waduh Om yang jago, saya masih anak bawang."

Beliau membalas lagi. "Wkwkwk, abang Ros bisa aja merendah."

Nah, di titik itulah saya sadar. Kalau soal menulis, saya mungkin masih tukang parkir di depan stadion. Omjay sudah main di lapangan utama.

Buktinya? Sudah puluhan buku ditulisannya. Ada ribuan artikel yang sudah lama menemani dunia literasi negeri ini. Kemarin, Beliau baru saja meluncurkan empat buku sekaligus.

Empat. Bukan satu. Bukan dua. Empat. Di negeri yang sebagian pejabatnya kesulitan menyelesaikan satu janji kampanye dalam lima tahun, Omjay menyelesaikan empat buku dalam satu waktu.

Ini bukan peluncuran buku biasa. Ini seperti serangan udara literasi. Seperti hujan meteor kata-kata. Seperti Gundala, Iron Man, Wiro Sableng, Thor, dan Hulk turun bersamaan ke dunia pendidikan.

Tema acaranya pun tidak main-main, "Menulis dengan Hati, Menginspirasi Negeri.”

Acara berlangsung daring dan diikuti guru, dosen, mahasiswa, pelajar, pegiat literasi, hingga masyarakat dari berbagai daerah. Singkatnya, yang hadir bukan buzzer. Yang hadir memang orang-orang yang masih percaya, membaca lebih berguna dari berdebat di kolom komentar Facebook.

Empat buku yang diluncurkan membawa pesan berbeda. Buku pertama, "Labschool Rumah Keduaku." Ini bukan buku tentang gedung sekolah. Ini buku tentang pengabdian lebih dari tiga puluh tahun di SMP Labschool Jakarta.

Tiga puluh tahun. Di zaman sekarang, banyak orang bertahan tiga puluh menit saja sudah ingin resign. Tiga puluh tahun itu setara usia beberapa partai politik, beberapa koalisi, dan beberapa persahabatan elite yang biasanya berakhir setelah pembagian kursi menteri.

Buku kedua, "Menulislah dengan Hati." Nah, ini menarik. Di era AI sekarang, orang bisa membuat artikel dalam hitungan detik. Ketik perintah. Klik. Jadi. Selesai. Bahkan ada yang lebih cepat membuat tulisan dari membaca judulnya sendiri.

Namun Omjay mengingatkan sesuatu yang sederhana. AI bisa membantu menulis. Tapi AI tidak bisa menggantikan hati. Karena pengalaman hidup tidak bisa diunduh. Ketulusan tidak bisa di-copy paste. Air mata guru yang melihat muridnya berhasil tidak bisa diubah menjadi file PDF.

Buku ketiga, "Kasta Tertinggi Seorang Guru." Judulnya terdengar seperti film kolosal. Padahal isinya sederhana. Kasta tertinggi guru bukan jabatan. Bukan pangkat. Bukan gelar. Bukan sertifikat yang ditandatangani tujuh pejabat. Melainkan ketika ilmunya hidup dalam diri murid. 
Kalau konsep ini diterapkan ke politik, mungkin separuh baliho langsung copot sendiri karena merasa minder.

Buku keempat, "Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi." Ini buku yang paling berbahaya. Kenapa? Karena merusak teori instan yang selama ini dipercaya banyak orang. Buku ini membuktikan, keajaiban tidak lahir dari motivator yang berteriak di atas panggung. Keajaiban lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Menulis. Terus menulis. Lalu menulis lagi. Ketika banyak orang sibuk mencari jalan pintas menuju sukses, Omjay justru berjalan kaki setiap hari. Pelan. Konsisten. Tidak viral. Tidak sensasional. Tahu-tahu sudah sampai jauh. Sangat jauh.

Di akhir cerita, saya malah merasa peluncuran empat buku ini bukan sekadar acara literasi. Ini sindiran halus kepada bangsa yang mulai kecanduan hal instan. Kita hidup di zaman ketika video 15 detik lebih populer dari buku 150 halaman.

Ketika gosip lebih cepat menyebar dari ilmu. Ketika orang lebih rajin memperbarui status daripada memperbarui pengetahuan. Lalu datanglah Omjay. Seorang guru biasa. Membawa empat buku sekaligus. Tanpa drama. Tanpa gimmick. Tanpa panggung asap. Hanya bermodal konsistensi.

Entah kenapa, itu terasa jauh lebih hebat dari seribu pidato yang berakhir dengan tepuk tangan, lalu dilupakan sebelum parkiran kosong.

Kapan-kapan kita duduk bersama, seruput Koptagul. Bukan om yang belajar, malah saya yang ingin belajar. 

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Comments

Popular posts from this blog

saya positif covid19

membaca adalah makananku dan menulis adalah minumanku

Apakah Tulisan di Blog Bisa Diedit?